Hitam, putih, abu-abu. Hitam, putih, abu-abu. Hanya warna itu yang bisa kulihat. Namaku adalah Sherlyn Sacnertaze Amelia. Aku bersekolah di SMP Feren Purpel kelas 7 C.
Seperti yang kalian tahu, aku buta warna. Semua yang kulihat hanya berwarna hitam, putih, abu-abu. Hitam, putih abu-abu.. dan.. itu menyedihkan.. teman-teman selalu menertawakanku jika mereka mengetesku dengan crayon dan menertawakanku jika salah. Tetangga rumahku pun terlihat seperti menjauhiku.
Ibu selalu bilang "Tidak apa-apa, kita tidak boleh menilai orang dari fisiknya, mereka mengatakan itu hanya karena mereka tidak tahu siapa kau sebenarnya."
Aku harap apa yang ibu katakan padaku benar.
Pandanganku pada hidupku adalah MEMBOSANKAN itu yang sangat cocok untuk mencerminkan hidupku ini. Aku sangat putus asa. Tapi aku malah memiliki ide yang mungkin sedikit aneh, tapi..tak ada salahnya mencoba, ya kan?
Aku mengecat kamarku dengan warna hitam, dan kutulisi dengan kapur putih. Lalu lantainya digambar seperti bidak catur yang tak beraturan menggunakan crayon. Aku merenovasi kamarku secara keseluruhan. Menjadikannya hitam putih. Namun dengan nilai seni.
Aku jadi suka mencorat-coret tembok. Aku juga semakin mahir menggambar. Karena dindingku hampir penuh, ibu akhirnya membelikanku buku sketsa. Namun aku tak pernah memakainya, hingga sekarang. Aku suka apa yang kulakukan sekarang.
Saat aku dan ibu pindah kerumah baru. Disana banyak sekali ruang kosong yang tidak diperlukan. Ibu menyulap 3 ruang kosong menjadi galeriku. "Dengan begini kau bisa menggambar sepuasnya tanpa diganggu orang lain." kata ibu tersenyum padaku. "Terimakasih bu." jawabku sambil memeluk ibuku.
Aku selalu menggambar setiap hari dengan berbagai macam media. Bahkan kini aku bisa melukis dan menggambar komik! Dan kini ruanganku penuh dengan karyaku. Ibu berniat menjual sebagian karyaku pada collector dan museum.
Awalnya aku tidak yakin tapi.. tidak ada salahnya kan mencoba?
Akhirnya ibu menjualnya. Kau tahu apa? Mereka membelinya! Mereka terkesan dengan bakatku! Padahal kupikir mereka takkan mau menerimanya.
Dan kau tahu apa?
Hitam, putih, abu-abu. Hitam, putih, abu-abu.
Berkat warna itulah aku menjadi artist monochromatic.
Dan berkat rahmat tuhan juga aku bisa seperti ini.
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar