Minggu, 10 Juli 2016

Mimpi Pertama Di Bulan Juli

Namaku Doni, kelas 3 SMA, 18 tahun. Siswa berprestasi (walau gak pernah memperhatikan pelajaran), populer, anak orang kaya, ganteng, teman banyak. Aku punya semuanya. Aku jadi berlagak sombong.
Namun suatu hari aku disadarkan oleh sebuah mimpi. Mimpi pertamaku di bulan Juli.
Saat itu, aku sedang mengikuti pelajaran Sastra Sunda. Aku tertidur dikelas.
.
.
.
.
.
.

Tiba-tiba aku berada di langit.
Hanya ada langit.. langit tak berujung.. aku berjalan entah tahu kemana harus pergi. Lalu aku bertemu seorang gadis.
"Permisi dek, ini dimana ya?" tanyaku. Ia hanya menatapku. Matanya bulat, biru cerah bagaikan langit yang tak berujung ini. Kulitnya putih, senyumnya manis. Aku hanya terdiam.
Lalu ia berkata "Ini langitku." tentu saja aku bingung apa maksud 'LANGITKU' ia menatapku yang kebingungan ini sambil tertawa.
"Hihihi..kakak lucu deh.. ini itu langitku. Tempat dimana aku tinggal." jelasnya. "Sendirian?" "Iya, sendirian" katanya ringan.
"Apa kau tidak pernah kesepian?" ia menggeleng. "Aku terkurung disini selama 10 tahun. Sekarang umurku 15." mendengar kata-kata gadis itu, aku menangis.
Aku hanya bisa membayangkan langit yang biru dan awan yang empuk seperti gumpalan kapas dimana-mana, tak ada siapa-siapa  hanya aku. Rasanya seperti.. HAMPA.
Aku pun menangis
"Kakak kenapa nangis?" aku hanya menangis..membayangkan hidupnya yang hampa..
"Kak, aku awalnya juga sama seperti kakak. Sempurna, memiliki segala yang dibutuhkan. Namun, tak ada sesuatupun yang abadi di dunia ini. Aku kehilangan segalanya. Uang, orang tua, teman, popularitas, prestasi menurun dll. Semua lenyap dalam sekejap."
Aku kini menyadari kalau sombong dapat menjatuhkanmu ke nol.
Tiba-tiba langit cerah itu langsung berubah menjadi kelabu. Ia berubah membawa badai yang sangat besar!
"Sudah waktunya ternyata.. mungkin aku dikurung selama ini untuk memberitahukan ini kepadamu kak." katanya sayup-sayup.
"A-apa maksudmu?" tanyaku kebingungan. Ia berjalan menuju pusat badai.
"Jangan lupa! Hargailah semua yang kau punya saat ini! Jangan sia-siakan mereka!" katanya sambil berteriak dari kejauhan. Aku mengangguk
"Selamat tinggal, kak." ia lenyap seakan badai itu pergi membawanya.
.
.
.
.
.
.
.
Aku perlahan-lahan membuka mataku. "Hei Doni, pelajaran sudah selesai, ayo pulang.". "Apa? Siapa?" kataku masih agak terkantuk-kantuk. "Ih, ini Luna. Ayo pulang!" kata Luna sambil mencubitku. "Adaw!" kataku kesakitan. "Iya iya aku bangun!" kataku menggerutu. Aku langsung mengemasi barang-barangku dan pulang bersama Luna.
"Eh Lun, menurut kamu selama ini aku sombong gak sih?" tanyaku. "Eh tumben nanya, geus tobat ya?" ledek Luna. "No, no aku tadi mimpi Lun." jawabku jujur. "Kalau mau introspeksi diri mendingan mulai dari sekarang." kata Luna sambil menepuk pundakku.
"Eh, rumahku belok sana! Kamu jalan terus ya, bye bye! Sampai ketemu besok!" kata Luna sambil bergegas pergi.
Saat aku berbelok aku bertemu seorang pengemis, saat aku melihatnya..ternyata! "Kamu! Kamu yang tadi di mimpiku kan?!" teriakku.
Ia hanya diam, ia sangat lemas. Karena aku iba akhirnya aku pergi sebentar ke warung untuk membeli sebungkus nasi uduk dan sebotol air mineral. Aku memberikannya pada gadis itu.
"Makasih, kakak introspeksi diri beneran ya?" katanya bahagia. Aku menangis dan memeluk erat gadis itu.
"Kakak koq nangis terus sih, nanti dikira cengeng loh.." aku hanya bisa terus memeluknnya.
"Makasih untuk segalanya ya." kataku pada gadis itu. Tapi saat kulihat..ia sudah tidak ada. Hilang bagai debu. Kepalaku langsung pusing, semua berputar-putar dan tiba-tiba..semuanya gelap.
.
.
.
.
.
.
.
The End

Tidak ada komentar: