Secangkir kopi hangat di malam hari. Pahit dan sulit untuk meninggalkannya. Sama seperti kehidupanku. Banyak sekali cobaan yang datang kepadaku. Hari demi hari cobaan itu tambah berat. Bahkan di hari pertamaku masuk SMA tak ada yang mau berteman denganku. Entah mengapa.
Namun di hari itu aku salah besar. Ichsan. Ia satu-satunya temanku. Aku heran. Ia tak pernah sehari pun tak mengobrol denganku. Bahkan sangat sering. Padahal aku sering merepotinya dengan segala masalah yang tidak terlibat dengannya. Bahkan saat anak lain menertawakan kami, menyebarkan gosip, mengejek.. ia tak meninggalkanku sama sekali. Entah mengapa.
Kelas 10..
Kelas 11..
Kelas 12..
Dan ujian akhir..
Kami berhasil melewati masa sulit seperti itu. Dan kami masih berteman. Bahkan, kini kami bersahabat. Anak lain juga mau berteman dengan kami. Tentunya kami beruda senang. Namun..
Hari ini adalah hari terakhir kami sebagai murid SMA. Aku masih penasaran. Apakah ia akan meninggalkanku atau menemaniku.
"Emm.. san, aku mau nanya nih. Boleh?" tanyaku pada Ichsan. "Iya boleh, ada apa memangnya?" jawabnya. "Jadi.. setelah ketemu kamu aku jadi heran. Yang lain menjauhiku. tapi kamu kenapa malah bersahabat denganku? Padahal juga aku sering membawa masalah padamu yang bukan urusanmu. Anak lain juga jadi berprasangka buruk padamu."
"Karena kita sama." Ichsan menghela nafas. "Sama?" tanyaku sambil mencoba mengerti.
"Iya. Aku saat SMP juga sepertimu. Sendirian, diasingkan, diejek, dibuang, tidak diharapkan.. seperti.. debu..
Setiap hari tujuanku kesekolah hanya untuk belajar dan saat waktunya pulang aku cepat pulang untuk kerumah.
Karena orang tuaku saat itu tak akur, mereka sangat sering bertengkar. Aku tak tahu harus apa. Seperti aku tak memiliki tujuan hidup..
Namun semua berbalik seolah jarum jam berputar di hari aku dilahirkan di dunia.
Ada seorang murid pindahan. Ia memperlakukanku layaknya Sahabatnya sendiri.
Sepertihalnya dirimu aku membawakannya masalah bahkan rumor tentang kami menyebar luas. Namun ia tak peduli..
Seiring berjalannya waktu. Pribadiku berubah.
Yang tadinya putus asa menjadi penuh harapan, yang tadinya pemurung jadi bahagia, yang tadinya gelap menjadi terang. Aku berubah, menjadi pribadi yang lebih baik.
Lalu hari itu datang..
Saat hari kelulusan, ia tidak pergi untuk meninggalkanku. Namun ia harus pergi karena ia akan sekolah di luar negri. Ia tak mengucapkan apa-apa kecuali..
'Jika kau bertemu seseorang seperti dirimu yang lama apa yang akan kau lakukan?' ia menanyakan hal yang mungkin tidak pernah kudengar dari mulutnya.
'Tentu saja memperlakukannya seperti apa yang kau lakukan padaku.' Ia hanya tersenyum. Ini hari terakhir kami bertatap mata secara langsung..
Setelah ia sekolah di luar negri, aku tak pernah mendengar kabar tentangnya.
Dan tahukah kamu siapa orang itu?"
Aku menggeleng.
Saat itu juga ia terkena pingsan, lemas tak berdaya. Aku segera membawanya ke UKS
Aku mendengar dari kakaknya ia mengidap penyakit mematikan yang misterius. "Tapi ia tak pernah memberitahukannya padaku! Kenapa begitu?" tanyaku sambil menangis. "Ia tak ingin kau menghawatirkannya, bahkan saat pulang ia selalu bercerita tentangmu." katanya pelan. Aku menangis terharu segaligus sedih..
Aku bahkan belum sempat mengatakan perpisahan. "Karena perpisahan, bukanlah akhir.. dan kita adalah.. sahabat sejati.." seakan..hatiku mengutarakan perasaan ini padaku.
Ini terasa sangat menyedihkan, nyata.. namun.. bisakah aku bangun dari mimpi burukku?
Kamis, 21 Juli 2016
Senin, 18 Juli 2016
Monochrome
Hitam, putih, abu-abu. Hitam, putih, abu-abu. Hanya warna itu yang bisa kulihat. Namaku adalah Sherlyn Sacnertaze Amelia. Aku bersekolah di SMP Feren Purpel kelas 7 C.
Seperti yang kalian tahu, aku buta warna. Semua yang kulihat hanya berwarna hitam, putih, abu-abu. Hitam, putih abu-abu.. dan.. itu menyedihkan.. teman-teman selalu menertawakanku jika mereka mengetesku dengan crayon dan menertawakanku jika salah. Tetangga rumahku pun terlihat seperti menjauhiku.
Ibu selalu bilang "Tidak apa-apa, kita tidak boleh menilai orang dari fisiknya, mereka mengatakan itu hanya karena mereka tidak tahu siapa kau sebenarnya."
Aku harap apa yang ibu katakan padaku benar.
Pandanganku pada hidupku adalah MEMBOSANKAN itu yang sangat cocok untuk mencerminkan hidupku ini. Aku sangat putus asa. Tapi aku malah memiliki ide yang mungkin sedikit aneh, tapi..tak ada salahnya mencoba, ya kan?
Aku mengecat kamarku dengan warna hitam, dan kutulisi dengan kapur putih. Lalu lantainya digambar seperti bidak catur yang tak beraturan menggunakan crayon. Aku merenovasi kamarku secara keseluruhan. Menjadikannya hitam putih. Namun dengan nilai seni.
Aku jadi suka mencorat-coret tembok. Aku juga semakin mahir menggambar. Karena dindingku hampir penuh, ibu akhirnya membelikanku buku sketsa. Namun aku tak pernah memakainya, hingga sekarang. Aku suka apa yang kulakukan sekarang.
Saat aku dan ibu pindah kerumah baru. Disana banyak sekali ruang kosong yang tidak diperlukan. Ibu menyulap 3 ruang kosong menjadi galeriku. "Dengan begini kau bisa menggambar sepuasnya tanpa diganggu orang lain." kata ibu tersenyum padaku. "Terimakasih bu." jawabku sambil memeluk ibuku.
Aku selalu menggambar setiap hari dengan berbagai macam media. Bahkan kini aku bisa melukis dan menggambar komik! Dan kini ruanganku penuh dengan karyaku. Ibu berniat menjual sebagian karyaku pada collector dan museum.
Awalnya aku tidak yakin tapi.. tidak ada salahnya kan mencoba?
Akhirnya ibu menjualnya. Kau tahu apa? Mereka membelinya! Mereka terkesan dengan bakatku! Padahal kupikir mereka takkan mau menerimanya.
Dan kau tahu apa?
Hitam, putih, abu-abu. Hitam, putih, abu-abu.
Berkat warna itulah aku menjadi artist monochromatic.
Dan berkat rahmat tuhan juga aku bisa seperti ini.
The End
Seperti yang kalian tahu, aku buta warna. Semua yang kulihat hanya berwarna hitam, putih, abu-abu. Hitam, putih abu-abu.. dan.. itu menyedihkan.. teman-teman selalu menertawakanku jika mereka mengetesku dengan crayon dan menertawakanku jika salah. Tetangga rumahku pun terlihat seperti menjauhiku.
Ibu selalu bilang "Tidak apa-apa, kita tidak boleh menilai orang dari fisiknya, mereka mengatakan itu hanya karena mereka tidak tahu siapa kau sebenarnya."
Aku harap apa yang ibu katakan padaku benar.
Pandanganku pada hidupku adalah MEMBOSANKAN itu yang sangat cocok untuk mencerminkan hidupku ini. Aku sangat putus asa. Tapi aku malah memiliki ide yang mungkin sedikit aneh, tapi..tak ada salahnya mencoba, ya kan?
Aku mengecat kamarku dengan warna hitam, dan kutulisi dengan kapur putih. Lalu lantainya digambar seperti bidak catur yang tak beraturan menggunakan crayon. Aku merenovasi kamarku secara keseluruhan. Menjadikannya hitam putih. Namun dengan nilai seni.
Aku jadi suka mencorat-coret tembok. Aku juga semakin mahir menggambar. Karena dindingku hampir penuh, ibu akhirnya membelikanku buku sketsa. Namun aku tak pernah memakainya, hingga sekarang. Aku suka apa yang kulakukan sekarang.
Saat aku dan ibu pindah kerumah baru. Disana banyak sekali ruang kosong yang tidak diperlukan. Ibu menyulap 3 ruang kosong menjadi galeriku. "Dengan begini kau bisa menggambar sepuasnya tanpa diganggu orang lain." kata ibu tersenyum padaku. "Terimakasih bu." jawabku sambil memeluk ibuku.
Aku selalu menggambar setiap hari dengan berbagai macam media. Bahkan kini aku bisa melukis dan menggambar komik! Dan kini ruanganku penuh dengan karyaku. Ibu berniat menjual sebagian karyaku pada collector dan museum.
Awalnya aku tidak yakin tapi.. tidak ada salahnya kan mencoba?
Akhirnya ibu menjualnya. Kau tahu apa? Mereka membelinya! Mereka terkesan dengan bakatku! Padahal kupikir mereka takkan mau menerimanya.
Dan kau tahu apa?
Hitam, putih, abu-abu. Hitam, putih, abu-abu.
Berkat warna itulah aku menjadi artist monochromatic.
Dan berkat rahmat tuhan juga aku bisa seperti ini.
The End
Selasa, 12 Juli 2016
Curhatan Di Secarik Kertas
Namaku adalah Rin Vizantia Lilacyths. Aku berumur 16 tahun, bersekolah di SMA Harapan Bangsa 1 kelas 11.. dan aku adalah murid teladan. Prestasi, sosialitas, pribadi dll tentang diriku adalah sempurna. Karena itu aku adalah murid teladan. Namun semua itu salah..
Meski aku terlihat sempurna, aku bukanlah makhluk yg sempurna. Karena sebenarnya aku tak pernah merasa bahagia..
Senyum palsu, tertawa palsu, kebahagiaan palsu..semuanya palsu..
Aku juga seperti ini bukan karena keluarga, teman, guru ataupun orang lain. Tapi karena kosong.. kekosongan yang ada dalam hatiku..
Entah apa yang bisa mengisi ruang hatiku yang kosong ini, sampai sekarang aku masih mencarinya, dan aku dipertemukan dengan "dirinya" tanpa disengaja. Ini seperti takdir. Awalnya aku tak merasakan apapun, namun lama kelamaan.. aku merasa seperti ada ikatan diantara kita berdua yang tak dapat dipisahkan..
Dan ini semua berawal dari hari itu..
Hari paling menyedihkan dalam hidupku sekaligus hari paling membahagiakan dalam hidupku. Hari dimana kedua orang tuaku meninggal dan hari pertama aku bertemu dirinya.
Ya, orang itu adalah..
Almirah Izana.
The End
Meski aku terlihat sempurna, aku bukanlah makhluk yg sempurna. Karena sebenarnya aku tak pernah merasa bahagia..
Senyum palsu, tertawa palsu, kebahagiaan palsu..semuanya palsu..
Aku juga seperti ini bukan karena keluarga, teman, guru ataupun orang lain. Tapi karena kosong.. kekosongan yang ada dalam hatiku..
Entah apa yang bisa mengisi ruang hatiku yang kosong ini, sampai sekarang aku masih mencarinya, dan aku dipertemukan dengan "dirinya" tanpa disengaja. Ini seperti takdir. Awalnya aku tak merasakan apapun, namun lama kelamaan.. aku merasa seperti ada ikatan diantara kita berdua yang tak dapat dipisahkan..
Dan ini semua berawal dari hari itu..
Hari paling menyedihkan dalam hidupku sekaligus hari paling membahagiakan dalam hidupku. Hari dimana kedua orang tuaku meninggal dan hari pertama aku bertemu dirinya.
Ya, orang itu adalah..
Almirah Izana.
The End
Minggu, 10 Juli 2016
Mimpi Pertama Di Bulan Juli
Namaku Doni, kelas 3 SMA, 18 tahun. Siswa berprestasi (walau gak pernah memperhatikan pelajaran), populer, anak orang kaya, ganteng, teman banyak. Aku punya semuanya. Aku jadi berlagak sombong.
Namun suatu hari aku disadarkan oleh sebuah mimpi. Mimpi pertamaku di bulan Juli.
Saat itu, aku sedang mengikuti pelajaran Sastra Sunda. Aku tertidur dikelas.
.
.
.
.
.
.
.
Tiba-tiba aku berada di langit.
Hanya ada langit.. langit tak berujung.. aku berjalan entah tahu kemana harus pergi. Lalu aku bertemu seorang gadis.
"Permisi dek, ini dimana ya?" tanyaku. Ia hanya menatapku. Matanya bulat, biru cerah bagaikan langit yang tak berujung ini. Kulitnya putih, senyumnya manis. Aku hanya terdiam.
Lalu ia berkata "Ini langitku." tentu saja aku bingung apa maksud 'LANGITKU' ia menatapku yang kebingungan ini sambil tertawa.
"Hihihi..kakak lucu deh.. ini itu langitku. Tempat dimana aku tinggal." jelasnya. "Sendirian?" "Iya, sendirian" katanya ringan.
"Apa kau tidak pernah kesepian?" ia menggeleng. "Aku terkurung disini selama 10 tahun. Sekarang umurku 15." mendengar kata-kata gadis itu, aku menangis.
Aku hanya bisa membayangkan langit yang biru dan awan yang empuk seperti gumpalan kapas dimana-mana, tak ada siapa-siapa hanya aku. Rasanya seperti.. HAMPA.
Aku pun menangis
"Kakak kenapa nangis?" aku hanya menangis..membayangkan hidupnya yang hampa..
"Kak, aku awalnya juga sama seperti kakak. Sempurna, memiliki segala yang dibutuhkan. Namun, tak ada sesuatupun yang abadi di dunia ini. Aku kehilangan segalanya. Uang, orang tua, teman, popularitas, prestasi menurun dll. Semua lenyap dalam sekejap."
Aku kini menyadari kalau sombong dapat menjatuhkanmu ke nol.
Tiba-tiba langit cerah itu langsung berubah menjadi kelabu. Ia berubah membawa badai yang sangat besar!
"Sudah waktunya ternyata.. mungkin aku dikurung selama ini untuk memberitahukan ini kepadamu kak." katanya sayup-sayup.
"A-apa maksudmu?" tanyaku kebingungan. Ia berjalan menuju pusat badai.
"Jangan lupa! Hargailah semua yang kau punya saat ini! Jangan sia-siakan mereka!" katanya sambil berteriak dari kejauhan. Aku mengangguk
"Selamat tinggal, kak." ia lenyap seakan badai itu pergi membawanya.
.
.
.
.
.
.
.
Aku perlahan-lahan membuka mataku. "Hei Doni, pelajaran sudah selesai, ayo pulang.". "Apa? Siapa?" kataku masih agak terkantuk-kantuk. "Ih, ini Luna. Ayo pulang!" kata Luna sambil mencubitku. "Adaw!" kataku kesakitan. "Iya iya aku bangun!" kataku menggerutu. Aku langsung mengemasi barang-barangku dan pulang bersama Luna.
"Eh Lun, menurut kamu selama ini aku sombong gak sih?" tanyaku. "Eh tumben nanya, geus tobat ya?" ledek Luna. "No, no aku tadi mimpi Lun." jawabku jujur. "Kalau mau introspeksi diri mendingan mulai dari sekarang." kata Luna sambil menepuk pundakku.
"Eh, rumahku belok sana! Kamu jalan terus ya, bye bye! Sampai ketemu besok!" kata Luna sambil bergegas pergi.
Saat aku berbelok aku bertemu seorang pengemis, saat aku melihatnya..ternyata! "Kamu! Kamu yang tadi di mimpiku kan?!" teriakku.
Ia hanya diam, ia sangat lemas. Karena aku iba akhirnya aku pergi sebentar ke warung untuk membeli sebungkus nasi uduk dan sebotol air mineral. Aku memberikannya pada gadis itu.
"Makasih, kakak introspeksi diri beneran ya?" katanya bahagia. Aku menangis dan memeluk erat gadis itu.
"Kakak koq nangis terus sih, nanti dikira cengeng loh.." aku hanya bisa terus memeluknnya.
"Makasih untuk segalanya ya." kataku pada gadis itu. Tapi saat kulihat..ia sudah tidak ada. Hilang bagai debu. Kepalaku langsung pusing, semua berputar-putar dan tiba-tiba..semuanya gelap.
.
.
.
.
.
.
.
The End
Namun suatu hari aku disadarkan oleh sebuah mimpi. Mimpi pertamaku di bulan Juli.
Saat itu, aku sedang mengikuti pelajaran Sastra Sunda. Aku tertidur dikelas.
.
.
.
.
.
.
.
Tiba-tiba aku berada di langit.
Hanya ada langit.. langit tak berujung.. aku berjalan entah tahu kemana harus pergi. Lalu aku bertemu seorang gadis.
"Permisi dek, ini dimana ya?" tanyaku. Ia hanya menatapku. Matanya bulat, biru cerah bagaikan langit yang tak berujung ini. Kulitnya putih, senyumnya manis. Aku hanya terdiam.
Lalu ia berkata "Ini langitku." tentu saja aku bingung apa maksud 'LANGITKU' ia menatapku yang kebingungan ini sambil tertawa.
"Hihihi..kakak lucu deh.. ini itu langitku. Tempat dimana aku tinggal." jelasnya. "Sendirian?" "Iya, sendirian" katanya ringan.
"Apa kau tidak pernah kesepian?" ia menggeleng. "Aku terkurung disini selama 10 tahun. Sekarang umurku 15." mendengar kata-kata gadis itu, aku menangis.
Aku hanya bisa membayangkan langit yang biru dan awan yang empuk seperti gumpalan kapas dimana-mana, tak ada siapa-siapa hanya aku. Rasanya seperti.. HAMPA.
Aku pun menangis
"Kakak kenapa nangis?" aku hanya menangis..membayangkan hidupnya yang hampa..
"Kak, aku awalnya juga sama seperti kakak. Sempurna, memiliki segala yang dibutuhkan. Namun, tak ada sesuatupun yang abadi di dunia ini. Aku kehilangan segalanya. Uang, orang tua, teman, popularitas, prestasi menurun dll. Semua lenyap dalam sekejap."
Aku kini menyadari kalau sombong dapat menjatuhkanmu ke nol.
Tiba-tiba langit cerah itu langsung berubah menjadi kelabu. Ia berubah membawa badai yang sangat besar!
"Sudah waktunya ternyata.. mungkin aku dikurung selama ini untuk memberitahukan ini kepadamu kak." katanya sayup-sayup.
"A-apa maksudmu?" tanyaku kebingungan. Ia berjalan menuju pusat badai.
"Jangan lupa! Hargailah semua yang kau punya saat ini! Jangan sia-siakan mereka!" katanya sambil berteriak dari kejauhan. Aku mengangguk
"Selamat tinggal, kak." ia lenyap seakan badai itu pergi membawanya.
.
.
.
.
.
.
.
Aku perlahan-lahan membuka mataku. "Hei Doni, pelajaran sudah selesai, ayo pulang.". "Apa? Siapa?" kataku masih agak terkantuk-kantuk. "Ih, ini Luna. Ayo pulang!" kata Luna sambil mencubitku. "Adaw!" kataku kesakitan. "Iya iya aku bangun!" kataku menggerutu. Aku langsung mengemasi barang-barangku dan pulang bersama Luna.
"Eh Lun, menurut kamu selama ini aku sombong gak sih?" tanyaku. "Eh tumben nanya, geus tobat ya?" ledek Luna. "No, no aku tadi mimpi Lun." jawabku jujur. "Kalau mau introspeksi diri mendingan mulai dari sekarang." kata Luna sambil menepuk pundakku.
"Eh, rumahku belok sana! Kamu jalan terus ya, bye bye! Sampai ketemu besok!" kata Luna sambil bergegas pergi.
Saat aku berbelok aku bertemu seorang pengemis, saat aku melihatnya..ternyata! "Kamu! Kamu yang tadi di mimpiku kan?!" teriakku.
Ia hanya diam, ia sangat lemas. Karena aku iba akhirnya aku pergi sebentar ke warung untuk membeli sebungkus nasi uduk dan sebotol air mineral. Aku memberikannya pada gadis itu.
"Makasih, kakak introspeksi diri beneran ya?" katanya bahagia. Aku menangis dan memeluk erat gadis itu.
"Kakak koq nangis terus sih, nanti dikira cengeng loh.." aku hanya bisa terus memeluknnya.
"Makasih untuk segalanya ya." kataku pada gadis itu. Tapi saat kulihat..ia sudah tidak ada. Hilang bagai debu. Kepalaku langsung pusing, semua berputar-putar dan tiba-tiba..semuanya gelap.
.
.
.
.
.
.
.
The End
Sabtu, 09 Juli 2016
Memorable Shelter
Saat itu aku sedang berjalan-jalan di hutan. Aku hanya berjalan, berjalan, dan berjalan. Entah mau kemana. Tak lama hujan pun turun. Aku cepat-cepat mencari shelter untuk berlindung. Dan kau tahu apa? Aku menemukan satu! Aku cepat-cepat berteduh disana.
Aku bertemu seorang gadis kecil. Rambutnya hitam, matanya kuning keemasan, kulitnya putih dan ia memakai sweater warna merah dengan motif teddy bear. "Apa yang kau lakukan disini? Apa kau disini untuk berteduh juga?" tanyaku. "Tidak, ini shelterku." jawabnya pendek. "Oh maaf, bolehkah aku berteduh disini wahai gadis kecil?" tanyaku kembali. "Namaku Natsumi." jawabnya pendek. "Baiklah kalau begitu Natsumi, aku numpang sebentar saja ya. Sampai hujannya selesai. Boleh?" Natsumi pun mengangguk.
Tak lama, ia segera berlari kedalam dan ia membawakanku susu putih hangat dan biscuit choco chips. "Ah terimakasih, tidak usah repot-repot.." kataku. Natsumi menggeleng "Ayo nikmati ini sambil menunggu hujannya reda. Ini buatanku yang pertama jadi aku tak bisa jamin rasanya enak." katanya sayup-sayup. Tanpa basa-basi aku langsung memakannya. "Enak sekali! Ini biscuit choco chips paling enak yang pernah kumakan!" kataku dengan gembira. "Benarkah?" Natsumi berusaha meyakinkan. "Iya iya enak banget" kataku sambil memakan biscuit choco chips tadi.
Selesai makan, aku membacakan cerita untuk Natsumi. "Kau mau dibacakan buku cerita apa?" tanyaku. Tanpa ragu ia mengambil sebuah buku cerita berjudul "Harta Karun Di Ujung Pelangi" karangan Hau Hiyoki. Akhirnya aku membacakannya. Setelah aku selesai membacakan cerita, aku dan Natsumi belajar merajut lewat buku Vall Miliea yang berjudul "Merajut? Ini panduan yang cocok untuk pemula!"
Aku dan Natsumi merajut banyak sekali syal dengan berbagai warna dan beranekaragam motif. "Shelterku koq jadi toko syal?" Natsumi tertawa geli "Sambil jualan kan lumayan." jawabku tertawa juga. Akhirnya kami sama-sama tertawa. Dan benar-benar.. syal nya dimana-mana! Sampai-sampai aku dan Natsumi bingung harus dikemanakan. "Apa ini kita jual saja ya?" tanya Natsumi. "Oh aku ada ide! Bagaimana kalau kita kasih saja sebagian ke Panti Asuhan Mlle di sebelah Utara sana?" tanyaku kepada Natsumi. Natsumi setuju.
Kami segera memasukkan sebagian syal itu kedalam dus. "Aku bawa dua dus ini dan kau yang satunya." kataku sambil mengangkat kardus pertama. "Okay deh bos!" jawab Natsumi bersemangat. Kami pun langsung pergi menuju panti dengan jas hujan. Sampai disana anak panti sangat gembira dengan kedatanganku dan Natsumi. Aku dan Natsumi juga senang, apalagi aku dan Natsumi merasa kalau bahwa syal yang kami rajut tidak sia-sia. Semua anak panti dapat syal satu perorangan. Setelah selesai aku dan Natsumi kembali ke shelter.
"Tadi sangat seru ya!" seru Natsumi kepadaku. "Iya! Aku senang melihat mereka tersenyum." balasku kepada Natsumi. Kami berdua kelelahan. Akhirnya kami berdua tertidur..
Dan saat aku terbangun, aku ada di kamar tidurku.
The End
Aku bertemu seorang gadis kecil. Rambutnya hitam, matanya kuning keemasan, kulitnya putih dan ia memakai sweater warna merah dengan motif teddy bear. "Apa yang kau lakukan disini? Apa kau disini untuk berteduh juga?" tanyaku. "Tidak, ini shelterku." jawabnya pendek. "Oh maaf, bolehkah aku berteduh disini wahai gadis kecil?" tanyaku kembali. "Namaku Natsumi." jawabnya pendek. "Baiklah kalau begitu Natsumi, aku numpang sebentar saja ya. Sampai hujannya selesai. Boleh?" Natsumi pun mengangguk.
Tak lama, ia segera berlari kedalam dan ia membawakanku susu putih hangat dan biscuit choco chips. "Ah terimakasih, tidak usah repot-repot.." kataku. Natsumi menggeleng "Ayo nikmati ini sambil menunggu hujannya reda. Ini buatanku yang pertama jadi aku tak bisa jamin rasanya enak." katanya sayup-sayup. Tanpa basa-basi aku langsung memakannya. "Enak sekali! Ini biscuit choco chips paling enak yang pernah kumakan!" kataku dengan gembira. "Benarkah?" Natsumi berusaha meyakinkan. "Iya iya enak banget" kataku sambil memakan biscuit choco chips tadi.
Selesai makan, aku membacakan cerita untuk Natsumi. "Kau mau dibacakan buku cerita apa?" tanyaku. Tanpa ragu ia mengambil sebuah buku cerita berjudul "Harta Karun Di Ujung Pelangi" karangan Hau Hiyoki. Akhirnya aku membacakannya. Setelah aku selesai membacakan cerita, aku dan Natsumi belajar merajut lewat buku Vall Miliea yang berjudul "Merajut? Ini panduan yang cocok untuk pemula!"
Aku dan Natsumi merajut banyak sekali syal dengan berbagai warna dan beranekaragam motif. "Shelterku koq jadi toko syal?" Natsumi tertawa geli "Sambil jualan kan lumayan." jawabku tertawa juga. Akhirnya kami sama-sama tertawa. Dan benar-benar.. syal nya dimana-mana! Sampai-sampai aku dan Natsumi bingung harus dikemanakan. "Apa ini kita jual saja ya?" tanya Natsumi. "Oh aku ada ide! Bagaimana kalau kita kasih saja sebagian ke Panti Asuhan Mlle di sebelah Utara sana?" tanyaku kepada Natsumi. Natsumi setuju.
Kami segera memasukkan sebagian syal itu kedalam dus. "Aku bawa dua dus ini dan kau yang satunya." kataku sambil mengangkat kardus pertama. "Okay deh bos!" jawab Natsumi bersemangat. Kami pun langsung pergi menuju panti dengan jas hujan. Sampai disana anak panti sangat gembira dengan kedatanganku dan Natsumi. Aku dan Natsumi juga senang, apalagi aku dan Natsumi merasa kalau bahwa syal yang kami rajut tidak sia-sia. Semua anak panti dapat syal satu perorangan. Setelah selesai aku dan Natsumi kembali ke shelter.
"Tadi sangat seru ya!" seru Natsumi kepadaku. "Iya! Aku senang melihat mereka tersenyum." balasku kepada Natsumi. Kami berdua kelelahan. Akhirnya kami berdua tertidur..
Dan saat aku terbangun, aku ada di kamar tidurku.
The End
Jumat, 08 Juli 2016
Sahabatku, Nilam
Hari ini aku menjenguk sahabat lamaku yang sedang sakit, namanya Nilam. Ia sakit kanker dan demam berdarah. Aku membawakannya buah tangan. Ia dirawat belum lama ini, aku sih sebenarnya tidak tahu kenapa dia bisa sakit kanker ya, tapi yang pasti sekarang kondisinya tidak menyehatkan.
Saat aku datang menemuinya, ia hanya tersenyum kearahku. Aku langsung mananyakan kabarnya. Ia hanya diam, tak lama kemudian ia berkata "Akhir-akhir ini aku suka membaca komik, dari genre apa saja! Aku kemarin beli 9 buku komik serial Detektif Kindaichi! Oh iya, aku juga baca komik online!"
Tentu saja aku terkejut! Kata Bibi Anne, ia sangat lemah. Bahkan ia jarang sekali bicara! Dan kata Bibi Anne juga biasanya ia tak peduli dengan lingkungan sekitar! Tapi saat aku datang ia menyambutku dengan senyumannya yang hangat. Akhirnya kami berdua mengobrol dengan akrab.
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan, tahun demi tahun aku sudah lama aku tidak dengar kabar tentang Nilam. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi kerumah Nilam. Saat sampai disana, aku disambut hangat oleh Bibi Anne dan Paman Ken.
Kami mengobrol sebentar seputar politik, musik, hobi, saling berbagi cerita dan mereka juga memberi permen kesukaanku. "Oh iya. Paman, Bibi, dimana Nilam? Bagaimana kabarnya sekarang?" tanyaku kepada Bibi Anne dan Paman Ken.
Entah kenapa mereka yang tadinya riang merubah muram, aku kembali bertanya "Ada apa?" Bibi Anne langsung masuk kedalam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Paman Ken hanya bisa mengatakan kalau "Nilam sudah tidak ada."
Mendengar perkataaan Paman Ken aku hanya bisa terdiam. Aku segera meminta lokasi pemakaman Nilam. Aku pamit kepada Bibi Anne dan Paman Ken. Lalu aku segera membeli seikat bunga crisant dan segera menuju ke lokasi Nilam.
Aku mencari dan mencari. Sampai akhirnya kutemukan lokasi Nilam berada. Aku berdoa untuk Nilam dan menyematkan bunga untuknya. "Maaf Nilam." itulah yang ada dipikiranku "Aku tidak ada disampingmu, untuk terakhir kalinya." saat aku pergi menjauh dari tempat Nilam. Seolah-olah Nilam berkata,
"Terimakasih atas semua kenangan indah yang kau berikan padaku, Mala."
"Terimakasih kembali."
The End
Saat aku datang menemuinya, ia hanya tersenyum kearahku. Aku langsung mananyakan kabarnya. Ia hanya diam, tak lama kemudian ia berkata "Akhir-akhir ini aku suka membaca komik, dari genre apa saja! Aku kemarin beli 9 buku komik serial Detektif Kindaichi! Oh iya, aku juga baca komik online!"
Tentu saja aku terkejut! Kata Bibi Anne, ia sangat lemah. Bahkan ia jarang sekali bicara! Dan kata Bibi Anne juga biasanya ia tak peduli dengan lingkungan sekitar! Tapi saat aku datang ia menyambutku dengan senyumannya yang hangat. Akhirnya kami berdua mengobrol dengan akrab.
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan, tahun demi tahun aku sudah lama aku tidak dengar kabar tentang Nilam. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi kerumah Nilam. Saat sampai disana, aku disambut hangat oleh Bibi Anne dan Paman Ken.
Kami mengobrol sebentar seputar politik, musik, hobi, saling berbagi cerita dan mereka juga memberi permen kesukaanku. "Oh iya. Paman, Bibi, dimana Nilam? Bagaimana kabarnya sekarang?" tanyaku kepada Bibi Anne dan Paman Ken.
Entah kenapa mereka yang tadinya riang merubah muram, aku kembali bertanya "Ada apa?" Bibi Anne langsung masuk kedalam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Paman Ken hanya bisa mengatakan kalau "Nilam sudah tidak ada."
Mendengar perkataaan Paman Ken aku hanya bisa terdiam. Aku segera meminta lokasi pemakaman Nilam. Aku pamit kepada Bibi Anne dan Paman Ken. Lalu aku segera membeli seikat bunga crisant dan segera menuju ke lokasi Nilam.
Aku mencari dan mencari. Sampai akhirnya kutemukan lokasi Nilam berada. Aku berdoa untuk Nilam dan menyematkan bunga untuknya. "Maaf Nilam." itulah yang ada dipikiranku "Aku tidak ada disampingmu, untuk terakhir kalinya." saat aku pergi menjauh dari tempat Nilam. Seolah-olah Nilam berkata,
"Terimakasih atas semua kenangan indah yang kau berikan padaku, Mala."
"Terimakasih kembali."
The End
Langganan:
Komentar (Atom)