Kamis, 21 Juli 2016

Confussion

Secangkir kopi hangat di malam hari. Pahit dan sulit untuk meninggalkannya. Sama seperti kehidupanku. Banyak sekali cobaan yang datang kepadaku. Hari demi hari cobaan itu tambah berat. Bahkan di hari pertamaku masuk SMA tak ada yang mau berteman denganku. Entah mengapa.

Namun di hari itu aku salah besar. Ichsan. Ia satu-satunya temanku. Aku heran. Ia tak pernah sehari pun tak mengobrol denganku. Bahkan sangat sering. Padahal aku sering merepotinya dengan segala masalah yang tidak terlibat dengannya. Bahkan saat anak lain menertawakan kami, menyebarkan gosip, mengejek.. ia tak meninggalkanku sama sekali. Entah mengapa.

Kelas 10..
Kelas 11..
Kelas 12..
Dan ujian akhir..

Kami berhasil melewati masa sulit seperti itu. Dan kami masih berteman. Bahkan, kini kami bersahabat. Anak lain juga mau berteman dengan kami. Tentunya kami beruda senang. Namun..

Hari ini adalah hari terakhir kami sebagai murid SMA. Aku masih penasaran. Apakah ia akan meninggalkanku atau menemaniku.

"Emm.. san, aku mau nanya nih. Boleh?" tanyaku pada Ichsan. "Iya boleh, ada apa memangnya?" jawabnya. "Jadi.. setelah ketemu kamu aku jadi heran. Yang lain menjauhiku. tapi kamu kenapa malah bersahabat denganku? Padahal juga aku sering membawa masalah padamu yang bukan urusanmu. Anak lain juga jadi berprasangka buruk padamu."

"Karena kita sama." Ichsan menghela nafas. "Sama?" tanyaku sambil mencoba mengerti.

"Iya. Aku saat SMP juga sepertimu. Sendirian, diasingkan, diejek, dibuang, tidak diharapkan.. seperti.. debu..
Setiap hari tujuanku kesekolah hanya untuk belajar dan saat waktunya pulang aku cepat pulang untuk kerumah.
Karena orang tuaku saat itu tak akur, mereka sangat sering bertengkar. Aku tak tahu harus apa. Seperti aku tak memiliki tujuan hidup..
Namun semua berbalik seolah jarum jam berputar di hari aku dilahirkan di dunia.
Ada seorang murid pindahan. Ia memperlakukanku layaknya Sahabatnya sendiri.
Sepertihalnya dirimu aku membawakannya masalah bahkan rumor tentang kami menyebar luas. Namun ia tak peduli..
Seiring berjalannya waktu. Pribadiku berubah.
Yang tadinya putus asa menjadi penuh harapan, yang tadinya pemurung jadi bahagia, yang tadinya gelap menjadi terang. Aku berubah, menjadi pribadi yang lebih baik.
Lalu hari itu datang..
Saat hari kelulusan, ia tidak pergi untuk meninggalkanku. Namun ia harus pergi karena ia akan sekolah di luar negri. Ia tak mengucapkan apa-apa kecuali..
'Jika kau bertemu seseorang seperti dirimu yang lama apa yang akan kau lakukan?' ia menanyakan hal yang mungkin tidak pernah kudengar dari mulutnya.
'Tentu saja memperlakukannya seperti apa yang kau lakukan padaku.' Ia hanya tersenyum. Ini hari terakhir kami bertatap mata secara langsung..
Setelah ia sekolah di luar negri, aku tak pernah mendengar kabar tentangnya.
Dan tahukah kamu siapa orang itu?"

Aku menggeleng.
Saat itu juga ia terkena pingsan, lemas tak berdaya. Aku segera membawanya ke UKS

Aku mendengar dari kakaknya ia mengidap penyakit mematikan yang misterius. "Tapi ia tak pernah memberitahukannya padaku! Kenapa begitu?" tanyaku sambil menangis. "Ia tak ingin kau menghawatirkannya, bahkan saat pulang ia selalu bercerita tentangmu." katanya pelan. Aku menangis terharu segaligus sedih..

Aku bahkan belum sempat mengatakan perpisahan. "Karena perpisahan, bukanlah akhir.. dan kita adalah.. sahabat sejati.." seakan..hatiku mengutarakan perasaan ini padaku.

Ini terasa sangat menyedihkan, nyata.. namun.. bisakah aku bangun dari mimpi burukku?

Tidak ada komentar: